11 April 2009

Toyota Prius III Lebih Irit dari Generasi Sebelumnya

Toyota Motor Corp (TMC) akhir pekan lalu mengabarkan bahwa mobil Prius hybrid generasi berikut akan ditingkatkan lagi fuel economi-nya. Bahkan, kini sedang dilakukan pengetesannya, sampai mendapat hasil maksimal sebelum dipasarkan. Demikian seperti dikutip kantor berita Nikkei.

Bila Prius generasi kedua menghasilkan 35 km/liter, generasi selanjutnya tadinya diisukan lebih boros. Namum, pihak TMC coba menekannya menjadi 38 km/liter dan angka itu didapat setelah dilakukan tes.

Memang, metode pengetesannya standar dengan jarak dari satu daerah ke daerah lain. Namun, dengan cara komparasi akan mendapatkan hasil yang lebih efisien untuk mesin bensinnya. Gambaran ini, menurut TMC, sudah dipaparkan dan dievaluasi oleh Menteri Transportasi Jepang.

Prius baru yang akan dilempar ke pasaran, Mei mendatang di Jepang, harus mementingkan dua unsur. Pertama, mengurangi revolusi mesin, terutama menyangkut kecepatan maksimum. Terakhir, keiritannya harus melebihi generasi ke-II.

10 April 2009

Peminat Nissan X-Trail dan Serena HS Harus Inden

Situasi pasar otomotif nasional lagi unik. Bayangkan, dalam kondisi krisis global, ada produsen meluncurkan sedan mewahnya. Ada BMW dengan Seri-7, kemudian Lexus dengan RX350, dan terakhir Audi yang Kamis lalu memperkenalkan sedan coupe
mewah A5.

Ternyata, pangsa pasar sedan mewah ini juga ada peminatnya. Buktinya, PT Nissan Motor Indonesia (NMI) telah menjual Teana di Maret ini sebanyak 6 unit. "Tahu nih, kadang-kadang aneh juga," tandas Teddy Iriawan, Deputi Direktur Sales & Marketing PT MNI mengenai pasar otomotif nasional.

Dari jumlah 6 unit itu, katanya, terbanyak di Jakarta dan satu di Surabaya. Untuk Maret ini, penjualan Nissan mencapai total 1.383 unit. "Turun memang dibanding Februari lalu, tapi selisihnya tipis," jelas Teddy.

Penjualan tertinggi diraih dari Grand Livina 1.5 XV manual yang mencapai 409 unit, diikuti yang transmisi otomatisnya, sebanyak 203 unit. Adapun di kelas SUV, X-Trail termewahnya, XT CVT 2.5, mencapai angka penjualan 105 unit. "Untuk X-Trail XT 2.5 CVT, pembeli harus inden sampai Mei, termasuk juga Serena Highway Star (HS)," ungkap Teddy yang tidak menyangka peminat Serena cukup banyak.

Mengenai kenaikan harga, ia menegaskan bahwa ada rencana ke arah sana. "Jangan kita terus yang duluan. Kali ini mau di belakang sekali-sekali. Wait and see, lah," tutupnya.

07 April 2009

Mesin Innova 2007 Plus Oksigen Sensor

Setelah 2007, mesin Kijang Innova mengalami proses pematangan “mental”. Hal itu dilakukan sesuai dengan perkembangan situasi dan kondisi, yaitu setiap kendaraan bermotor yang dipasarkan di Indonesia harus memenuhi standar emisi gas buang Euro-2. Tujuannya untuk mengurangi pencemaran lingkungan dan pemanasan global.

Tidak ada perubahan mendasarkan pada mesin 1TR-FE. Hanya ditambahkan TWC (three way cataytic converter) atau katalisator 3-jalur. Fungsi alat yang dipasang antara muffler dan mesin ini untuk mengurangi polusi seperti HC (hidrokarbon) atau bensin yang terbakar, karbon dioksida (CO2) dan nitrogen oksida (NOX).

Oksigen Sensor
Tambahan lainnya adalah oksigen sensor atau sering juga disebut AFR (air fuel ratio). Nama lainnya lambda sensor. Sensor ini dipasang pada saluran buang. Tugasnya memantau kadar oksigen yang keluar dari gas buang. Lantas membandingkannya dengan oksigen di udara bebas.

Kadar oksigen dari gas menentukan kondisi samburan, miskin atau kaya. Atau apakah pembakaran berlangsung lebih baik atau kurang sempurna. Informasi selanjutnya dikirim ke komputer mesin. Komputer pun menentukan jumlah bensin yang mesti disemprotkan. Dengan cara bisa ditentukan komposisi campuran sesuai dengan kebutuhan mesin. Misalnya saat normal, butuh tenaga untuk akselerasi atau saat mobil dikurangi kecepatannya.

Komputer Mesin
Dengan adanya oksigen sensor, maka ada juga tambahan “masukan” buat komputer mesin atau engine control unit (ECU). Hasilnya, menurut Iwan Abdurachman dari Training Toyota Astra Motor, dibandingkan mesin Innova tanpa oksigen sensor dan catalytic converter, versi terbaru saat dites di perindustrian, bisa mengirit bensin sampai 5 persen. Maklum, kalau mau bersih, juga kerjanya harus lebih efisien.

06 April 2009

Walau Tubuh Besar, Konsumsi BBM Justru Lebih Irit

Konsumsi bahan bakar tidak melulu ditentukan oleh kapasitas mesin. Tidak ada hukum, makin besar kapasitas mesin, makin boros konsumsi bahan bakarnya. Dengan perkembangan teknologi, asumsi tersebut dipatahkan.

Contohnya, Kijang Innova bensin sebagai mobil keluarga yang paling populer di Indonesia. Kendati kapasitas mesinnya 2.000 cc, lebih besar dibandingkan Kijang Kapsul, 1.800 cc, Innova justru lebih irit. Padahal dari segi dimensi, Innova juga lebih besar.

Lho, kok bisa demikian?

Lebih Aerodinamis
Dua faktor utama, bodi Innova lebih aerodinamis dibandingkan dengan Kapsul. Bagian depan Innova lebih landai atau istilah kerennya, streamline, dibandingkan Kapsul. Di samping itu, permukaan bodinya juga lebih rata dan mulus.

Dengan demikian, ketika kendaraan melaju, hambatan angin jadi lebih rendah. Tenaga yang diperlukan untuk bergerak tidak terlalu besar. Alhasil, jumlah bahan bakar yang diperlukan untuk menggerakkan kendaraan bisa dikurang. Istilah lainnya, konsumsi bahan bakar jadi lebih irit.

Mesin Canggih
Faktor kedua adalah cara kerja atau teknologi mesin plus komponen pemindah daya seperti transmisi. Untuk memasok bahan bakar ke dalam mesin, Innova menggunakan sistem injeksi, sedangkan Kapsul karburator.

Hebatnya lagi, kerja mesin dikontrol oleh komputer. Dengan cara ini, kebutuhan mesin akan bahan bakar diatur sesuai dengan beban kerjanya. Saat lambat atau muatan ringan, jumlah bahan bakar yang dipasok sedikit. Sebaliknya, pada kecepatan tinggi, jumlah bahan bakar yang dipasok lebih banyak.

Bahan bakar dipasok dengan cara menyemprotkannya ke ruang pada katup mesin. Di sini bahan bakar atau bensin dicampur bersama udara yang dihisap oleh mesin. Di dalam mesin, udara dan bensin terus bercampur lebih 'akrab' lagi. Setelah itu, dimampatkan (kompresi), dibakar dengan menyulutnya melalui percikan bunga api yang dihasilkan oleh busi. Kemudian, terjadi ledakan yang mendorong piston dan menggerakan mesin dan selanjutnya dipindahkan ke transmisi dan roda.

Keunggulan sistem injeksi, bensin dipasok ke mesin dengan takaran yang telah ditentukan berdasarkan berbagai kondisi di sekitar mesin. Termasuk banyaknya massa udara yang dihisap mesin, suhu mesin dan berbagai parameternya.

Adapun pada mesin yang masih menggunakan karburator, bensin diisap berdasarkan bukaan katup gas yang dioperasikan melalui pedal gas. Komposisi campuran bisa saja tidak pas dan sulit diatur sesuai dengan kondisi kerja mesin.

Teknologi lainnya pada mesin Innova adalah Variable Valve Timing-Intelligent (VVT-i). Dengan teknologi ini, campuran bensin dan udara yang masuk ke mesin disesuaikan dengan kondisi kerja putaran dan beban mesin.

VVT-i memungkinkan mesin menyedot jumlah campuran udara dan bensin dengan mengatur waktu buka dan tutup katup isap secara optimal dengan memanfaatkan komputer. Udara mengalir ke dalam mesin secara efisien.

Drive by Wire
Bukan hanya itu, menurut Achmad Rizal, Marcomm Manager PT TAM, yang sebelumnya adalah merintis Kijang injeksi, pengembangan teknologi mesin Innova sangat banyak dibandingkan versi sebelumnya.

Dijelaskan, Innova 2007 harus memenuhi standar emisi Euro2. Hal tersebut harus dilakukan karena Kijang Innova juga diekspor dan mengikuti standar emisi internasional.

Sebagai contoh, untuk mengatur putaran mesin atau kerja mesin tidak lagi menggunakan kabel konvensional yang menghubungkan pedal gas dengan throttle body atau katup gas. “Innova sudah menggunakan drive by wire. Di samping itu, satu busi untuk satu silinder. Kemampuan kerjanya jauh lebih efisien. Inilah membuat Kijang Innova jadi lebih irit,” jelasnya.

Bahkan, untuk mengikuti standar Euro2, Innova juga dilengkapi dengan oksigen sensor plus katalis (catalytic converter) untuk mengurangi emisi gas buang. Hasilnya, selain lebih irit, mesin Kijang Innova bensin juga makin ramah terhadap lingkungan.

Masalahnya, menurut insinyur mesin lulusan ITB ini, kekeliruan yang dilakukan pengemudi Kijang adalah kurang memahami cara mengoperasikan pedal dengan sistem drive by wire ini. “Pada tahap awal pedal gas ditekan, reaksi mesin memang lebih lambat dibandingkan yang menggunakan kabel. Namun, begitu sudah bekerja, jadi cepat. Nah, karena agak lambat di awal itu, pengemudi sering menekan ulang pedal gas. Akibatnya, tentu saja pemakaian bahan bakar jadi boros,” terangnya.