12 November 2008

Tes Riil Bahan Bakar Chevrolet Captiva dan Optra Magnum

Umumnya ATPM menginformasikan konsumsi bahan bakar kendaraan mereka saat launching atau melakukan road test dalam kondisi mobil masih baru. Barangkali belum ada seperti yang dilakukan PT GM Auto World Indonesia (GMAWI), Jumat dan Sabtu (24-25/10) lalu. ATPM Chevrolet di tanah air itu mengadakan pengujian konsumsi BBM terhadap produk mereka.

Kendaraan yang diuji Chevrolet Captiva 2.4L bensin dan Captiva 2.0L Diesel VCD1 yang dilengkapi transmisi Teptronik, Chevrolet Optra Magnum 1.6L (matik) plus satu unit pendukung Chevrolet Estate. Mobil-mobil yang diuji ini bukan gres, seperti Captiva berusia di atas satu tahun yang merupakan demo car yang sebelumnya sudah di tes oleh puluhan media.

Sebagai tenaga penguji, GMAWI mengajak 10 wartawan dari 10 media nasional, termasuk salah satunya kompas.com. Dalam setiap kendaraan diisi 4 orang (termasuk pengemudi), plus dari GMAWI. Dan ini merupakan pengujian untuk kedua kalinya, setelah yang pertama kala launching.

Pengujian tidak ada ketentuan khusus. Metode yang dipakai natural, full to full ke masing-masing kendaraan di SPBU Pertamina Gatot Subroto. Chevrolet Captiva 2.4L bermesin bensin diisi dengan Pertamax dan 2.0L bermesin diesel diisi dengan Bio Diesel, masing-masing memnpunyai kapasitas tangki BBM sebesar 65 liter. Sedangkan Chevrolet Optra Magnum yang diisi Pertamax, memiliki kapasitas 60 liter.

Kecepatan dibebaskan dan tidak ada konvoi. “Wartawan dibiarkan menggunakan karakter mengemudi masing-masing dengan kendaraan yang semua kami bawa bertransmisi otomatis,” ungkap Kiki Fajar, PR & Corporate Communication Manager PT GMAWI.

Lebih lanjut Kiki menjelaskan, pihaknya sengaja membawa produk-produknya untuk diuji kembali tingkat konsumsi BBM-nya oleh para Jurnalis, tak lain ingin membuktikan bahwa produk Chevrolet bukan produk yang boros. “Dalam pengujian yang sudah menjadi tradisi ini, kami menggunakan metode yang natural dan normal 99 persen sesuai dengan kenyataan sehari-hari,” tutup Kiki.

Makanya, rute yang dipilih, Jakarta-Bandung-Ciwidey-Jakarta berjarak sekitar 375 km sudah disesuaikan dengan kondisi sangat mewakili perjalanan keluarga Indonesia. Termasuk start dari Senayan dipilih pukul 16.00 karena saat itu kondisi lalulintas di dalam kota paling macet dan kecepatan mobil sekitar 20 km/jam.

Namun titik nol pengujian dimulai dari pompa bensin Gatot Subroto, di mana semua kendaraan diisi penuh bahan bakarnya. Ketika masuk tol Gatot Subroto menuju Cikampek sampai kilometer 59, lalulintasnya masih padat dengan kecepatan antara 40 km/jam hingga 60 km/jam. Baru masuk tol Cipularang yang kontur jalannya bergelombang, kecepatan mobil bisa digenjot tinggi antara 120 km/jam sampai 160 km/jam.

Masuk pintu tol Pasteur, kami kembali dihadang antrean panjang. Begitu juga ketika menuju obyek wisata Kawa Putih di Ciwidey, sengaja melewati jalur dalam kota yang padat merayap. Sampai di Soreang, rombongan menghadapi jalan sempit, menanjak dan menurun cukup terjal ditambah tikungan tajam berjarak sekitar 30 km sampai Kawah Putih dan naik lagi ke atas ke Rancawilini (lokasi perkebunan the yang indah).

Ketika kembali ke Jakarta, pengisian kedua baru dilakukan ketika tiba di Soreang (mau balik ke Jakarta). Hasilnya, Captiva 2.4L (bensin) mencatat 1 liter menempuh 8,3 km, Captiva Diesel 2.0L, 1 liter sejauh 10,6 km dan Optra Magnum 1 liter sepanjang 9,4 km. Jumlah pemakaian konsumsi yang normal dengan kondisi rute pengujian yang bervariasi.

Termasuk pemakaian AC, trus pengujian tidak dilakukan malam hari, tapi dari pagi hingga sore. Bahkan suhu udara, mulai dari sekitar 35 derajat Celsius sampai di bawah 25 derajat celcius (ketika di Kawah Putih dan Rancawilini).

Bahkan rute dari Soreang, Jawa Barat menuju Jakarta melalui tol Kopo, Cipularang, Cikampek dan dalam kota Jakarta, konsumsi bahan bakar jauh lebih irit. Untuk Captiva 2.4L menempuh 12,2 km untuk 1 liter, Captiva 2.0L Diesel 12,5 km untuk 1 liter dan Optra Magnum menempuh 14 km untuk 1 liter.

Dengan hasil tes ini, konsumen bisa membandingkan dengan produk dari merek lain. Tapi, tentunya dengan metode, kondisi lalu lintas dan karakter mengemudi yang bebas seperti diterapkan di sini.

All Rounders Dari New Ford Escape

Sebelum di launching pertengahan Oktober ini, Kompas.com sempat merasakan performa, kenyamanan, kelincahan serta kegesitan New Ford Escape. Rute dirancang oleh PT Ford Motor Indonesia (FMI) dari Jakarta menuju ke tempat wisata Kemuning di Sukabumi berjarak sekitar 125 km.

Dalam acara "Media test & Ride", 18-19 September lalu, FMI menyediakan tiga unit Escape baru, mulai dari varian termewah Limited, XLT dan XLS yang semuanya bertransmisi otomotis. Kebetulan kompas.com nendapat kesempatan menjajal versi termewahnya yang punya beberapa kelebihan. Seperti panel instrumen bercorak wood, spoiler belakang, side rocker, bumper overrider dan pengontrol AC otomotis.

Sebagai Real SUV yang bisa menjelajah segala medan (all rounders), mesin Escape Duratec 2.3L 4 silinder DOHC 16V teruji di medan yang cukup komplet.Ketika merayap di jalan bebas hambatan (Tol), saat dilakukan akselerasi terasa halus karena mesin sudah dilengkapi Variable Valve Timing (VVT) dan Electronic Throttle Control System (ETCS).

Bahkan dengan didukung dua teknologi itu, konsumsi bahan bakar sejak pergi hingga balik tidak melakukan pengisian ulang. Malah sampai finish di Pondok Indah, posisi bahan bakar masih seperempat lebih.Pihak FMI mengklaim pemakaiannya 10,4 liter per kilomter.

Padahal, kondisi lalulintas bervariasi. Malah ketika melintas di Cisaat, Sukabumi terjadi antrean panjang. Kemudian masuk Kemuning Resort dihadang jalanan sempit dan tanjakan terjal 45 derajat dengan sudut tikungan 30 derajat. Kondisi ini dilahap dengan santai.

Khusus untuk menaklukkan tanjakan terjal, posisi tongkat transmisi matik harus diturunkan ke angka 2 karena tanpa diawali dengan ancang-ancang dan dalam satu mobil itu berisi lima orang berbadan subur semua. Begitu juga ketika meliuk tikungan, keolengan bodi kecil karena dibekali sistem suspensi yang independen.

Terlebih menghadapi medan off-road, meski tergolong ringan namun segala aspek di mobil teruji. Seperti tanjakan yang di atasnya terdapat jalan berlubang, sehingga membuat satu roda tak menginjak tanah, toh mobil bisa lolos. Rintangan seperti ini dilalui beberapa kali. Tak perlu mengumbar tenaga mesin berlebihan karena dengan torsi 20,7kgm pada 4.000 rpm, cukup diurut pedal gas, sekalipun sistem gerak dua roda (2WD) sudah bisa lolos.

Sayang, diameter genggaman setirnya kurang pas untuk kendaraan SUV, malah cocok buat sedan. Sehingga, saat memutarkan kemudi harus diperlakukan halus. Tapi, itu bukan jadi masalah serius. Apalagi SUV ini diperuntukkan mereka berusia 30-40 tahun, lingkar kemudi standar bisa diganti dengan yang bergaya sport.

03 November 2008

iMiEV Melaju Tanpa Deru

Saat berada di belakang setir mobil ini, tak ada yang berbeda dibandingkan dengan mobil konvensional. Perlengkapan kontrol untuk menjalankannya sama saja. Begitu juga bentuknya, yaitu setir, pedal rem dan akslerator (gas), rem tangan, tongkat pemindah gigi tipe “gate” seperti transmisi otomatik versi sekarang, kontak starter dan panel instrumen.


Setelah mengetahui posisi perlengkapan kontrol mobil, agar mobil bisa dijalankan, target berikutnya adalah mencari lokasi “kunci kontak”. Berada di setir, seperti mobil biasa. Pengoperasian cukup dengan memutarnya.

Ketika kunci kontak di- “ON”-kan, layar instrumen menayangkan “O” (nol) pada speedometer. Indikator transmisi dan dan tripmeter pun muncul dalam tayangan digital. Sederhana sekali!. Di bagian tengah dashboard, pada layar monitor muncul peta dengan keterangan dalam huruf kanji. “Masih asli Jepang!”

Tanpa Getaran
Pada mobil dengan mesin konvensional atau motor bakar, saat kunci kontak “ON” atau hendak dijalankan, getaran dan suara mesin adalah pertanda siap jalan! Nah, pada mobil listrik seperti iMiEV ini, tak ada getaran dan deru. Akibatnya, kita belum yakin mobil ini siap dijalankan.

Sebenarnya, iMiEV bukanlah mobil listrik pertama yang saya coba. Pada 1992, saya sudah pernah mencoba listrik VW di Geneve de Mondiale atau Pameran Mobil Jenewa. Waktu itu yang saya rasakan, saat hendak menjalankan mobil, belum yakin siap dijalankan. Pasalnya, tak ada getaran dan deru mesin. Hal yang sama terulang kembali pada iMiEV!

“Ini sudah siap dijalankan,” tanya saya kepada Takayuki Yatabe yang duduk di jok penumpang depan dan merupakan orang yang bertanggung jawab dalam teknologi mobil listrik buatan Mitsubishi ini.


Takayuki yang masih muda itu, menjawab,”Ya. Siap dijalankan! Namun, motor listrik belum bekerja.” Artinya, aki belum menggerahkan energi ke motor listrik. Sedangkan pada mesin bensin atau diesel, dipastikan energi sudah digunakan untuk menghidupkannnya.

Pedal rem saya injak. Rem tangan diturunkan. Posisi tongkat transmisi semua di “P”, segera digeser ke “D”. Saat transmisi saya opeasikan itulah, Takayuki menyuruh saya untuk menginjak pedal rem.
Setelah pedal akselerator di tekan, mobilo bergerak. Tak ada getaran, tak deru mesin yang semakin besar. Suasana senyap. Saya coba menggunakan rem, ternyata bisa beropresi dengan pakem. Mobil bisa diajak meluncur dengan lancar.

Efek “Engine Brake”
Sedikit berbeda adalah huruf-huruf yang tertera paa transmisi. Ternyata sedikit berbeda dibandingkan dengan mobil transmisi otomatik. Pada iMiEV ditulis”P, R, N, D, Eco dan B”. Huruf terakhir ini yang berbeda. Takayuki pun menjelaskan, fungsinya sebagai rem tambahan atau pengaman yang digunakan saat mobil berada di turunan. Sedangkan “Eco” yang juga sudah banyak diaplikasikan pada mobil-mobil sekarang, ditugaskan untuk mengirit energi atau melaju dengan santai.

Namun yang pasti, saat mobil melaju dengan posisi “D”, tenaga terasa cukup besar. Akselerasinya juga responsif, terutama saat start dari diam. Untuk kondisi lain, karena memang tidak bisa dikebut secara maksimal , belum banyak yang diketahui. Pasalnya, setiap wartawan hanya diberi waktu 2 menit mengetesnya di sirkuit supermini.

Ingin mendapatkan pengalaman naik iMiEV sebagai penumpang saja? Cepat-cepatlah datang ke stand Mitsubishi di Arena Pekan Raya Jakarta dalam rangka Indonesia-Japan Expo 2008 yang berlangsung sampai 9 November ini!

22 October 2008

Mobil Sport Tanpa Mesin, Kopling, Transmisi & Suspensi

Mobil listrik makin banyak ditawarkan oleh berbagai perusahaan, baik produsen besar maupun kecil kendati kemampuannya terbatas. Salah satu yang sangat menarik - terutama bagi pencinta lingkungan adalah emisinya nol alias tidak menimbulkan polusi.

Beragam teknologi mobil listrik pun muncul. Baik yang dihasilkan oleh satu peusahaan maupun hasik kerjasama. Salah satu yang cukup menarik – terutama di lingkungan wartawan otomotif - dan saat ini masih dipamerkan di Paris Motor Show adalah Venturi Volage.

Dari segi penampilan, Venturi Volage dinilai sebagai mobil konsep yang “sexiest” bersama kendaraan lainnya. Maklum, mobil ini adalah roadster dua pintu yang membuka seperti sayap burung. Dari segi teknologi, meski bukan hasil karya Venturi sendiri, tetapi dari Michelin, sangat menarik sebagai kendaraan alternatif masa depan.

MAW
Melalui dua aspek itulah, Venturi Volage menjadi menarik meksi stand dan produknya jauh kalah pamor dan menarik dibandingkan perusahaan peserta lainnya, terutama perusahaan mobil terkemuka di dunia.

Venturi adalah sebuah perusahaan yang membuat mobil sport khusus bertenaga listrik dari Monaco. Publikasi kehadiran Venturi Volage juga dibantu oleh publikasi khusus Michelin.

Penampilan Volage memang agak beda. Panjangnya 3.965, lebar 1.949 mm dan tinggi 1.235 mm. Alhasilnya, mobil ini tampak ceper dan lebar. Keunikan mobil ini, ban yang digunakan berukuran besar dan hanya punya sedikit celah antara bibir fender atau sepatbor. Bagian luar roda pun ditutup, mirip seperti mobil balap F1-Ferrari.

Teknologi baru yang diperkenalkan Venturi, justru berada di ban. Penemunya, yaitu Michelin dan menyebutnya “Michelin Active Wheel” (MAW).

Semuanya di Roda
Dengan mengandalkan MAW, Venturi Volage tidak lagi memerlukan sumber penggerak konvensional plus pemindahnya, seperti kopling dan transmisi. Hebatnya lagi, komponen penggerak, suspensi dan rem bisa disatukan pada roda.

Itulah yang membedakan desain dan konstruksi roda Volage berbeda dibandingkan dengan mobil konvensional atau kendaaraan listrik lainnya. Pada bagian dalam roda terdapapat komponen utama mobil, yaitu motor listrik, piringan rem, kaliper, motor suspensi listrik, per suspensi dan suspensi aktif.

Motor listrik mendapatkan pasokan tenaga dari baterai (beratnya 250 kg) langsung menggerakkan atau memutar roda. Mobil tidak memerlukanperantara, seperti kopling dan transmisi. Untuk ini digunakan baterai lithium-polimer. Motor listrik mampu menghasilkan tenaga 53 kW (72PS) dan torsi 232 Nm pada berbagai tingkat putaran. Karena langsung menggerakkan roda, kemampuan tersebut dinilai sangat fantastik dan mampu menghasilkan akselerasi yang impresif!

Ditambahkan, dengan menggunakan suspensi listrik, selain menghasilkan pengendalian yang mantap, tingkat kenyamanan juga lebih baik. Sedangkan rem lebih andal dan terpercaya. Energi yang terbuang dapat ditekan serendah mungkin atau dengan kata lain, efisiensi mobil maksimal.

Lebih lanjut dijelaskan, dengan memadukan motor penggerak, suspensi dan rem di roda, bobot mobil jadi ringan, meski bobot Volage mencapai 1.075 kg. Ditambahkan pula, desain mobil jadi ringkas dan sederhana karena banyaknya komponen yang tak diperlukan lagi. Karena itu pula Michelin berani menilai, karyanya ini akan membawa mobil ke era baru, terutama alat transportasi jalan raya, “Konsep rancangan mobil harus diulang!”

4 x 4 atau 4 x 2
Dengan motor listrik langsung di roda, maka pilihan menggunakan sistem penggerak 4 x 4, 4 x 2, gerak roda belakang dan sebagai lebih mudah dan fleksibel. Setiap roda bisa saja menggunakan satu motor atau disebut juga sistem 4 x4. Lebih sederhana lagi, bila kedua roda depan saja yang dipasangi motor listrik, mobil pun menjadi 4x2.

Meski Venturi Volage menggunakan baterai, namun Michelin berharap energi untuk menggeraklan kendaraan bisa dari sel bahan bakar atau kapasistor. Karena itu pula, selain bekerjasama dengan Venturi, produsen ban ini juga membuat mobil listrik dengan perusahaan lain, yaitu Heuliez dan Orange.

Melalui MAW, Michelin ingin memberi bukti bahwa sistem yang dirintisnya dapat diaplikasikan pada mobil penumpang dan barang. Dengan teknologi ini diharapkan, solusi praktis akan kebutuhan transportasi dalam kota, bisa terjawab. Sekaligus mengurangi polusi di tengah kota dengan kendaraan yang terus berjubel.

Sebenarnya teknologi ini sudah pernah diperkenalkan Michelin 12 tahun lau. Namun momennya kurang pas. Kini, dengan semakin mahalnya harga bahan bakar dan tuntutan lingkungan yang semakin ketat, Michelin menganggap, teknologi sudah bisa dikomersialkan.

Dengan MAW, suspensi tidak lagi bekerja secara mekanisme, tetapi listrik. Sistem unik ini mampu bekerja dengan respon waktu yang sangat cepat, yaitu 0,003 detik dan gejala oleng dan ajrut-ajrutan praktis hilang.

Meski begitu, bukan berarti sistem Michelin ini tidak punya kelemahan. Karena bagian utama menggunakan bekerja secara kelistrikan dan dipasang di roda lagi, untuk daerah yang sering banjir tentu saja kurang cocok. Kecuali, bila mampu membuat sistem penyekat yang benar-benar anti-banjir atau rembesan air.