09 May 2009

Innova Tembus 1:12,23 Dalam Kota

Ketika Hery Sembodo mampu mengemudikan Kijang Innova dengan konsumsi bahan bakar 1:15 lebih untuk luar kota, berapa konsumi dalam kota? "Rata-rata sekitar 1:10, 1:11 lah," ujar Hery.

Jawaban anggota Innova Community itu bikin penasaran, bisa atau enggak mencapai angka segitu? Peminjaman Innova disampaikan ke PT Toyota Astra Motor (TAM) selaku agen tunggal pemegang merek Toyota di Indonesia. Ternyata, permohonan dikabulkan dan pihak TAM menyediakan satu unit Kijang Innova tipe E 2008 manual yang merupakan varian terendah dibandingkan tipe G dan V. Namun, tampilan eksteriornya ya beda tipis sama dua varian tadi.

Yang membedakan, pada Innova tipe E ini tidak ada lampu kabut dan penghapus kaca belakang. Namun, kaca spion sudah dilengkapi lampu sein, meski menekuknya masih menggunakan tangan. Kemudian, pada bumper belakang sudah memakai bumper protection.

Kondisi mobil maupun mesin 1TR-FE betul-betul standar. Tak ada komponen yang diganti atau ditambah seperti yang sudah dilakukan Hery. Sudah begitu, jam terbang Innova yang dites ini sudah menempuh jarak lebih 5.000 km.

Dua Model Tes
Tes yang Kompas.com lakukan tidak keluar kota, tetapi dalam kota dan difokuskan pada pemakaian bahan bakar. Metode pengetesan tanpa menggunakan alat, hanya full to full tangki bensin yang pada Innova ini diisi Premium. Padahal, kompresinya 1:9,8 yang seharusnya memimun Pertamax.

Sekalipun Premium, mesin 1TR-FE tidak ngelitik. Hal ini dikarenakan mesin berkapasitas 2.000 cc itu sudah dilengkapi knock sensor. Fungsinya, mengirim data ke komputer agar setelan pengapiannya dimajukan secara otomatis.

Selama pengetesan, tak ada trik khusus atau akal-akalan, tetap menggunakan AC, meski posisi tombol di satu dan temperatur seperempat. Tekanan angin keempat roda disesuaikan dengan anjuran pabrikan, yakni 33 psi. Terpenting lagi, memperlakukan kendaraan dengan halus. Mulai dari menekan pedal gas, tak boleh dihentak lantaran sudah dilengkapi teknologi drive-by-wire. Kemudian, tidak memaksakan kerja putaran mesin dan memindahkan gigi transmisi sesuai kebutuhan.

Nah, dengan prinsip itu, tes dilakukan dua metode. Pertama, merayap di jalan protokol pada jam sibuk (pergi ke kantor dan pulang kantor). Dengan menempuh jarak total 142,8 km, 40 persen melewati jalan macet...cet...cet.... 30 persen kondisi padat merayap, dan 30 persen lagi melaju dengan kecepatan rata-rata 25 km/jam. Hasilnya, ketika tangki bensin diisi penuh (sampai luber) didapat pemakaian konsumsi 1:8,12 km.

Bisa segitu, sekali lagi karena memperlakukan mobil dengan halus. Semisal, setiap kali menggerakkan mobil (dari posisi berhenti), putaran mesin tak lebih dari 1.200 rpm (asal bergerak). Tak perlu melebihi 1.500 rpm bahkan sampai 1.800 rpm yang banyak dilakukan pengemudi karena suara mesin baru terdengar pada putaran segitu. Ketika mobil sudah bergerak (kopling terangkat), pedal gas ditekan perlahan, jangan dihentak.

Kemudian, dari persneling satu ke dua, putaran mesin dipatok sampai 1.900 rpm. Itu bisa di atas 2.000 rpm, tetapi kerja mesin sudah berat. Dari gigi dua inilah awal penentuan kecepatan. Karena ingin mendapat pemakaian bahan bakar yang baik, maka kecepatannya normal. Di sini, perpindahan dari gigi dua ke tiga dilakukan saat putaran mesin mencapai 1.900 rpm dan kecepatan menunjukkan 20 km/jam. Lantas, dengan putaran mesin 2.000 rpm, perpindahan kembali dilanjutkan dari tiga keempat, kecepatan terpatok pada angka 40 km/jam. Ini kecepatan awal yang ideal untuk melesat normal di dalam kota.

Karena banyak dihadang jalan macet, ketika mobil dalam sedang mengantre (berhenti), usahakan kaki kiri tidak menginjak pedal kopling. Karena bisa saja tanpa sadar terangkat sedikit, sementara kaki kanan menginjak pedal rem sehingga mobil tidak jalan. Namun, tenaga mesin bekerja, bikin bensin boros.

Nah, dengan teknik seperti di atas, tes kedua dijalankan di arus lalu lintas yang tidak padat. Stop and go hanya sekitar 15 persen, selebihnya mobil bisa melesat antara 25 km/jam dan 30 km/jam. Innova diajak masuk ke jalan tol dalam kota satu putaran dengan kecepatan tertinggi 90 km/jam saat menyalip dan selebihnya rata-rata 70 km/jam, kemudian masuk ke kota. Semua dilakukan malam hari mulai pukul 20.00.

Dari jarak tempuh 112,7 km, kala tangki bensin diisi kembali, tercatat angka 9,215 liter. Berarti, pemakaian bensin 1 liter menempuh jarak 12,23 km. Jika memakai Pertamax mungkin bisa lebih jauh jarak tempuhnya. Juga, bisa turun jika membawa penumpang karena dalam tes ini hanya berdua.

21 April 2009

Lexus RX350 Dibanjiri Pesanan

Luar biasa. Belum genap sebulan sejak diperkenalkan pada pertengahan Maret lalu, minat konsumen terhadap Lexus RX350 di luar perkiraan. Di saat kondisi pasar otomotif nasional lagi kurang sehat, justru kendaraan premium itu telah dipesan sebanyak 50 unit.

Boleh jadi, tinggi minat terhadap crossover mewah ini dipicu oleh nama Lexus yang mendunia dan kekuatan produknya sendiri yang mengusung filosofi desain L-Finesse generasi terkini. Selain itu, SUV ini menghadirkan kenikmatan berkendara dengan kenyamanan setara sedan mewah.

“Kami bersyukur atas dukungan dan kepercayaan pelanggan Lexus di Indonesia, khususnya kepada para pelanggan All New RX350 yang berkenan menunggu 1-2 bulan untuk mendapatkan kendaraannya,” bilang Johnny Darmawan, Indonesia Lexus Principal.

Melalui kesempatan ini, Johnny juga ingin meluruskan perihal rumor yang bikin pencinta Lexus gelisah. Bahwa All New RX350, tegasnya dipasarkan di bawah brand Lexus. Toyota tidak akan mengeluarkan produk serupa seperti generasi sebelumnya. “Semoga informasi ini dapat membantu pencinta Lexus dalam menentukan kendaraan yang paling sesuai dengan kebutuhannya,” lanjut Johnny.

Pernyataan ini diperkuat oleh pihak Toyota Motor Corp (TMC) yang menegaskan kalau tipe RX memang spesifik Lexus. Toyota Harrier dengan tipe serupa tidak lagi diproduksi karena TMC menginginkan RX menjadi model utama dalam jajaran line up Lexus, baik di Jepang, maupun dunia.

Secara total, tahun ini Lexus Indonesia telah membukukan pemesanan mendekati 90 unit. Melalui The LEXUS Gallery sebagai distributor resmi sekaligus pusat layanan Lexus di Indonesia berharap dapat terus menghantar personal luxury experience kepada pelanggan.

20 April 2009

Nissan Fairlady yang Kalem, tapi Galak

Nissan Fairlady 350Z tergolong sedan sport coupe yang kencang. Kemudian, Fairlady ini bukan sembarangan lantaran mengusung transmisi manual 6 speed, sesuatu yang menjadi salah satu pembeda. Namun, Adhi Abel Wisesa merasa kurang puas dengan sport car Jepang itu. Anggaran sebesar hampir Rp 120 juta dikeluarkan untuk memenuhi hasrat salah satu biang modifikasi "nyeleneh" di Ibu Kota ini.

Ebel—demikian Adhi biasa dipanggil—mendongkrak tenaga Nissan bikinan 2003 itu menjadi lebih kencang namun street use. "Selain itu, 350Z standarnya sudah berjubah Veilside," tegas pria kelahiran 28 September 1988 ini.

Namun, dengan Veilside yang beraura sporty dan racing tidak membuat pemilik rumah modifikasi Wisesa Motorsport itu nyaman. Body yang gembung susah diajak ngebut. Tak pelak, bodi asli digusur oleh body kit Wald seharga Rp 25 juta yang lebih kalem dengan garis-garis dinamis mengesankan sport car luxury,
kecuali kap mesin menggunakan Varis yang mempunyai lubang 'insang' atau air scoop untuk mencirikan besutan kencang. Diperkuat dengan aksen carbon di permukaannya semakin mengentalkan kesan racing.

Badan pesawat terbang
Untuk mesin, tenaga sebesar 285 dk dinilai Ebel cukup kencang. Ia hanya memperkuat kopling. Supaya pertukaran transmisi lebih presisi, mulai dari per kopling hingga dekrup dipercayakan pada Ogura. Efeknya, injakan pedal kopling lebih ringan dan kuat lantaran materialnya menggunakan bahan karbon.

Sistem gas buang disentuh agar tenaga mesin VQ35DE lebih spontan. Pipa knalpot stainles dari Fujitsubo punya andil besar untuk mendapatkan tenaga di putaran bawah. "Untuk proyek berikutnya, ECU harus diganti punya NISMO," target Ebel.

Sebagai seorang pebalap, Ebel tahu persis kalau bobot kendaraan memengaruhi tenaga. Makanya, keempat roda disematkan velg Volk Racing TE37 asal Jepang yang amat ringan dan tahan banting. Harganya Rp 40 juta dan special edition dengan bahan forged monoblock yang juga diaplikasikan ke badan pesawat terbang. Beratnya enggak beda jauh dengan bayi, sekitar 3,6 kg.

Yang sedikit mengagetkan Ebel adalah saat mengganti setir standar dengan model racing buatan Sparco. Ternyata enggak bisa sembarangan, khususnya yang bertransmisi manual. Ketika diganti dengan setir aftermarket, sinyal ECU tambah 'ngaco'. "Cek engine menyala terus. Jadi, selain harus ganti semua sistem komputer, setirnya juga harus semerek dengan ECU," jelas Ebel.

19 April 2009

Wow! Mercedes Pakai Velg Seharga Sedan Proton Saga

Dari segi tampilan, Mercedes-Benz E200 ini layaknya mobil standar. Meski body kit AMG sudah menempel seperti bumper depan. Kemudian pada bagian belakang, ada penambahan sayap mungil dan ujung knalpot kiri dan kanan yang ganda.

Lantas, apa yang menarik dari mobil Jerman produksi 2003 ini? Coba perhatikan keempat roda, menggunakan velg Forgiato Parlaro. Lalu, sekalian lirik ke sistem penghenti lajunya, sudah tidak standar.

Satu set rim Parlaro itu seharga dengan sedan Proton Saga dari Malaysia yang baru di-launching Maret lalu. Kresna, sang pemilik Mercedes, menebusnya 9.500 dollar AS (dikalikan Rp 12.000) atau Rp 114.000.000. Pertimbangan memilih velg Parlaro, "Dulu gue pernah ikut kontes modifikasi, tapi kalah untuk ngedapetin gelar The Best Rims," sesal Kres—sapaan karib Kresna—yang dengan velg baru siap berkompetisi.

Desain velg Forgiato Parlaro ini terbilang unik. Konsepnya, perpaduan bulan sabit dan palang besar membentuk center hub sebagai pemegang baut roda. Diklaim memiliki titik poin keseimbangan dan kekuatan yang sama dengan model velg konvensional berkonstruksi 3-pieces forged.

Boleh jadi, Parlaro disebut sebagai velg revolusioner yang canggih dan terwujud dengan sempurna. Bayangkan, minim pegangan, namun bisa bersinergi dengan kekuatan dan keseimbangan mobil. Kebetulan velg ini punya ukuran untuk E-Klasse yaitu 5/112 dengan pemesanan 3 bulan.

Finishing yang dipilih satin black, meski juga tersedia flat black/satin silver center with chrome lip, flat red/flat black center with flat black lip, dan chrome/black.

Dengan velg canggih, Kresna membenamkan Brembo 8 pot ke roda depan. "Ukuran disk-nya sekitar 380 milimeter," bilang Ferry Soehary, punggawa Concept Motorsport yang mendandani mobilnya. Pengerjaannya sangat gampang, kebetulan Brembo menyiapkan perangkat penghenti laju berspek plug and play.