20 June 2008

BMW Raih International Engine Award

BMW kembali meraih penghargaan tertinggi International Engine of the Year 2008 yang baru diumumkan. Berarti, bagi Perusahaan mobil Munich itu, gelar yang paling didambakan para prinsipal mobil di dunia ini diraih untuk yang keenam kalinya. Dan mesin yang dinobatkan itu yang 3.0L twin-turbo dan tahun ini merupakan gelar untuk yang kedua kalinya.

Di ajang pemilihan ini, mesin BMW 3.0L Twin-turbo ini bersaing keras dengan grup VW lewat mesin 1.4L TSI yang mendapat 100 point. Ternyata, BMW berhasil mengalahkan dan bahkan tidak kurang empat kali masuk kelompok 8 besar dalam kategori penghargaan utama.

Menariknya, dewan juri bukan dari Eropa saja. Jumlahnya sebanyak 65 orang merupakan wartawan otomotif internasional dari 32 negara. Mereka diminta memberi penilaian dari beberapa mesin mobil yang sudah lolos seleksi lebih dulu.

Untuk kategori Performance Engine of the Year diraih Porsche. Sedang jenis hybrid diberikan pada Toyota Prius. Inilah pemenang kategori lainnya.SBT

International Engine of the Year 2008
BMW 3-litre Twin-Turbo (135i, 335i, X6)

Best New Engine of 2008
BMW 2-litre Diesel Twin-Turbo (123D)

Green Engine of the Year
Toyota 1.5-litre Hybrid Synergy Drive (Prius)

Best Performance Engine
Porsche 3.6-litre Turbo (911 Turbo, 911 GT2)

Sub 1-litre
Toyota 1-litre (Aygo, Yaris, Peugeot 107, Citroën C1, Subaru Justy)

1-litre to 1.4-litre
Volkswagen 1.4-litre TSI Twincharger (Golf, Touran, Tiguan, Jetta)

1.4-litre to 1.8-litre
BMW-PSA 1.6-litre Turbo (MINI Cooper S, Clubman, Peugeot 207, 308)

1.8-litre to 2-litre
Volkswagen/Audi 2-litre Turbo (A3, A4 Cabrio, A6, TT, Eos, Jetta, Golf GTi, Altea, Leon, Skoda Octavia)

2-litre to 2.5-litre
Subaru 2.5-litre Turbo (Forester, Impreza, Outback, Legacy)

2.5-litre to 3-litre
BMW 3-litre Twin-Turbo (135i, 335i, X6)

3-litre to 4-litre
BMW 4-litre V8 (M3)

Above 4-litre
BMW 5-litre V10 (M5, M6)

19 June 2008

Mitsubishi Persiapkan Lancer Evo X ke WRC

Mitsubishi Motor Company (MMC) Jepang mengumumkan ingin kembali meramaikan arena kejuaraan reli dunia (World Rallying Championship). Sejak 2005, mobil berlambang tiga berlian itu mundur sebagai tim pabrikan, tapi peserta perorangan atau klub masih ada yang mengendarai Mitsubishi di berbagai kejuaraan reli, baik nasional maupun internasional.

Kala mundur dulu, pihak MMC sudah menegaskan mereka pasti akan kembali lagi. Namun pengumuman ini lebih cepat dari rencana sebelumnya. Lomba yang dibidik dalam waktu dekat, yakni kejuaraan seri WRC di negeri sendiri, (Jepang) atau ditampilkan di beberapa reli nasional di negeri matahari terbit itu.

Salah satu yang memotivasi Mitsubishi menyodorkan mobil ke reli Jepang, ingin menguji, selain kendaraan juga beberapa komponen. Sambil menunggu pengesahan dari FIA (Federation Internationale de L’Automobile).

Adapun kendaraan yang sudah didaftarkan ke FIA , Lancer Evolution (Evo) X versi jalan raya (course car). Dan diharapkan masuk musim panas ini sudah keluar pengesahannya (homologation). Kendati masih menunggu, di beberapa reli nasional di Jepang, Evo X ini sudah diterjunkan sebagai double zero (OO) dan zero (O) atau pembukan jalan.

Meski sebagai pembuka jalan, namun persiapannnya sudah seperti mengikuti reli. Termasuk beberapa teknologi baru sudah dipakai. Seperti roll cage yang menyatu dengan penguatan yang intensif.

RalliArt yang selama ini menjadi mitra membangun mobil reli Mitsubishi diminta membuat beberapa komponen. Seperti di antaranya gigi transmisi, rem dan close ratio. Sedang eksterior kebagian membuat pelindung bawah (floor guard) mesin dan tangki, sump guard dan penahan lumpur. Termasuk bangku pengemudi dan co-driver dengan sabuk pengaman lima titik.

Apakah Lancer Evo X ini akan sukses? Rasanya bisa melakukan persaingan yang selama ini diramaikan antara Citroen, Ford dan Subaru. Karena Mitsubishi pernah punya prestasi spektakuler, yakni menghantar pereli Tommi Makinen (Finlandia) meraih juara dunia 4 kali berturut-turut (1996 – 1999) dengan Lancer Evo III dan Evo IV. Ketika ganti mobil dengan Evo VI, prestasi tak secemerlang generasi sebelumnya dan Tommi kelanjur mundur.

Di Indonesia, ketika pernah menjadi tuan rumah kejuaraan dunia (1996 dan 1997) sebagian besar pereli nasional mengendarai Mitsubishi. Kini pun, seperti Subhan Aksa, Rizal Sungkar dan Akbar Hadianto masih setia di belakang kemudi Mitsubishi.

18 June 2008

Test Drive BMW 630i Convertible: Menyatu dengan Alam

Menyatukan diri dengan alam memang mengasyikkan. Bayangkan menempuh perjalanan di pagi hari dengan mobil kap terbuka papan atas, di pinggiran kota Jakarta, dengan angin semilir meniup lembut ujung-ujung rambut. Nuansa hijau dari pepohonan yang terdapat di tepian jalan dan juga dari padang rerumputan yang terhampar di kawasan Jagorawi Golf & Country Club, Jawa Barat, menimbulkan kesan tersendiri.

BMW 630i Convertible berwarna Alpine white yang tampil kontras dengan warna kulit interior Chateu red melaju memasuki kawasan Jagorawi Golf & Country Club. Karena sudah agak terlambat, terpaksa mobil yang atapnya dapat dibuka-tutup itu menyusuri jalan lingkar menuju hole 11.

Karena sinar Matahari belum terlalu panas, atap BMW 630i Convertible ditinggalkan dalam keadaan terbuka. Penambahan cool pigment pada kulit pelapis kursi dengan menggunakan teknologi Sun Reflective, yang berfungsi memantulkan radiasi sinar inframerah Matahari, membuat kursi terhindar dari panas yang berlebihan pada saat terpapar sinar Matahari.

Interior BMW 630i Convertible tampak mewah berkat penggunaan material terpilih dan bahan-bahan berkualitas tinggi serta instrumen panel yang menggunakan bahan chrome berwarna abu-abu mutiara.

Jika dirasakan terik sinar Matahari terlalu panas, pengendara dapat menutup atap lunak, yang terdiri dari tiga lapis, dengan lapisan peredam panas dan suara dari bahan busa polyurethane di bagian tengah, di antara dua lapisan dari bahan karet di sisi dan luarnya. Proses buka-tutup atap itu memakan waktu 25 detik dan dapat dilakukan pada saat mobil melaju dengan kecepatan 30 kilometer per jam.

Asyik dikendarai

Kompas yang mendapatkan kesempatan untuk mengendarai BMW 630i Convertible langsung menemukan bahwa performa mobil yang berkategori coupe convertible itu setara dengan kesan yang dicerminkan oleh desain dan sosoknya.

Mobil yang menyandang mesin berkapasitas 3.0 Liter, 6 silinder segaris, itu lincah (agile) dan asyik dikendarai. Pertambahan kecepatan atau akselerasi berlangsung cepat, ringan, dan halus. Tanpa banyak kesulitan BMW 630i Convertible dipacu sampai 120 kilometer per jam. Namun, dalam keadaan atap mobil terbuka, jika tak ingin rambut berantakan tertiup angin, usahakan kecepatan mobil tidak melampaui 80 kilometer per jam. Di atas kecepatan 80 kilometer per jam, apalagi di atas 100 kilometer per jam, terjadi turbulence di kabin, aliran udara di kabin menjadi heboh, mirip naik sepeda motor dengan kecepatan tinggi.

Mesin dari bahan komposit magnesium/aluminium menghasilkan tenaga 258 PK pada 6.600 rpm dan torsi 300 Nm pada 2.500 rpm, yang sanggup membuat BMW 630i Convertible berakselerasi dari 0-100 kilometer per jam dalam waktu 7,2 detik. Meskipun demikian, mesin itu hanya mengonsumsi 1 liter bensin untuk menempuh perjalanan sejauh 10,1 kilometer. Cukup irit, bahkan untuk sebuah mesin yang berkapasitas 2.0 Liter.

Meskipun atap dalam keadaan terbuka, penumpang BMW 630i Convertible tetap aman, walaupun mobil terguling (rollover). Dengan catatan, semua penumpang mengenakan sabuk pengaman (seatbelt). Dalam keadaan mobil terguling, pilar A yang mengapit kaca depan telah diperkuat sedemikian rupa sehingga tetap kokoh pada tempatnya. Dan, advance crash safety module, yang membaca sinyal dari sensor bahwa mobil akan terguling, dalam hitungan sepersekian detik langsung mengaktifkan roll bar (pelindung berbentuk baja melengkung). Roll bar yang tersimpan dalam modul di belakang sandaran kepala kursi belakang akan muncul ke atas sehingga semua penumpang di dalam mobil terlindungi.

BMW 630i Convertible dilengkapi dengan sistem persneling otomatik dengan 6 tingkat kecepatan, dan dilengkapi dengan steptronic (sejenis tiptronic). Dengan demikian, pengendara dimungkinkan untuk menaikkan dan menurunkan gigi persneling secara manual, dengan mendorong atau menarik tangkai persneling yang bentuknya mirip joystick, atau menekan pedal kecil di setir.

Mobil yang dijual dengan harga off the road Rp 1,557 miliar itu dilengkapi dengan Active Steering yang membuat setiap manuver mobil menjadi lebih mudah, dan run flat tyre, yang memungkinkan mobil tetap dapat dikendarai sejauh 150 kilometer dengan dengan kecepatan 80 kilometer per jam dalam keadaan ban kempis, atau tanpa tekanan sama sekali.

17 June 2008

BMW dan Ferrari Bikin Mobil di India

Keberhasilan India membuat mobil mungil Tata Nano dengan harga sekitar Rp 25 juta cukup memusingkan produsen yang telah lebih dulu hadir. Tidak cuma pabrikan dari Jepang, tapi juga Eropa ikut tersengat. Seperti Smart ForTwo, karya bersama Mercedes dan perusahaan jam Swatch, yang harganya di atas Rp 300 juta. Kemudian Subaru dengan R1 dan R2 yang mematok harga di atas Rp 145 juta.Terakhir, Mitsubishi yang bersiap memproduksi i-MiEV bertenaga listrik.

Yang cukup terganggu dengan kehadiran Nano supermurah adalah GM. Produsen mobil raksasa dari Amerika itu sudah menggandeng China untuk memproduksi kendaraan mikro, dengan harga sekitar Rp 33 juta per unit.

Dari Jepang sendiri, Suzuki sudah masuk ke India. Produk yang dihasilkan sudah diluncurkan tahun lalu di Indonesia, yakni Karimun Estilo.

Sukses produsen mobil nasional India Tata telah membuat pabrikan mobil Eropa, seperti BMW, kepincut ingin membuat kendaraan mikro di India. Rencana ini sudah disampaikan Presiden Direktur BMW India Peter Kronschnabl bahwa BMW sedang mempelajari potensi memperkenalkan produk terbarunya. “Saya tak bisa mengatakan kapan mobil itu ditampilkan di India karena kami mesti diskusi dengan pusat (Jerman),” tutur Kronschnabl.

Lebih jauh, Kronschnabl menegaskan, kendaraan mikro yang bakal mereka produksi tidak akan menjadi saingan Nano, tapi sebagai kendaraan mungil yang mewah. Karena itu, harga per unitnya diperkirakan sekitar Rp 455 juta.

Selain BMW, Ferrari juga berencana melirik India. Mereka tampaknya akan meminang produsen mobil raksasa India, Tata Motors. Kebetulan bos Tata, Ratan Tata, juga masuk dalam manajemen di FIAT (India) yang juga sudah bekerja sama dengan Tata. Ratan mengaku dirinya sudah diundang bos FIAT dan Ferrari, Luca Di Montezemolo, ke Italia.

Kabar baru lagi, Toyota sudah mengibarkan bendera perang untuk kendaraan kecil itu. Bukan di Thailand sebagai basis produksinya, melainkan di India juga. Lokasinya di Bangalore.